GENERASI SINETRON

Generasi Sinetron

hqdefault

Seorang anak perempuan berusia sekitar delapan tahun berdiri menghadap kamera dengan raut wajah serius. Nampak ia memohon sesuatu sambil memperlihatkan serangkaian huruf bertinta biru pada secarik kertas: “Jangan Bunuh Kami dengan Sinetron”.

Terdengar klise, namun program sinetron yang terus saja “menggempur” lapisan masyarakat khususnya anak-anak telah menjadi dinamika tersendiri belakangan ini. Tamat satu, muncul lagi sinetron pengganti yang tidak jauh berbeda dengan pendahulunya.

Tentang sinetron, ini menarik karena selalu saja menjadi isu klasik. Di kota-kota besar dengan status sosial dan tingkat pendidikan yang tinggi, sinetron “bisa saja” tidak banyak berpengaruh bahkan cenderung dicueki tetapi di kampung-kampung, dengan mayoritas masyarakatnya tidak mendapatkan bekal pendidikan dan sistem filter yang mumpuni, akan menjadi masalah besar.

Sekadar untuk mengambil contoh.  Hari ini salah satu judul sinetron yang sedang digandrungi masyarakat di kampung saya adalah “Anak Jalanan”. Para penggemarnya mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak, remaja, hingga anak-anak yang masih duduk di bangku SMP, SD bahkan TK. Semuanya secara sukarela menongkrongi kotak berwarna-warni untuk sekadar melampiaskan rasa penasarannya.

Terkadang iklan pun rela ditonton hanya karena takut ketinggalan lanjutan ceritanya. Ketika ditanya mengapa begitu setia menonton, alasan mereka mirip-mirip yakni sinetron ini sangat berbeda dari yang lain dengan adanya adegan balapan motor gede (moge) dari para pemainnya yang masih muda nan rupawan.
Jauh dari Pesan Mendidik.

Harus diakui kalau sinetron seperti Anak Jalanan adalah acara yang punya rating tinggi, namun sayang pesan moralnya sangat jauh dari kata mendidik untuk penontonnya. Meski banyak ditonton, sinetron ini tidak pernah lepas dari kritikan terutama dari kalangan pendidik dan penggiat parenting.

Mereka menganggap terjadi distorsi pesan secara tersirat oleh pemerannya. Misalnya saja aktor utama laki-laki yang pintar, atletis, jago balapan,  dan diperebutkan gadis-gadis seusianya ternyata juga saleh dalam kesehariannya.

Namun banyak yang menganggap peran “saleh” hanya menjadi “pemanis” karena si aktor−yang tentunya masih di bawah arahan sutradara−tetap menganggap bahwa pacaran adalah hal yang lumrah. Sebuah kontradiksi sekaligus kontroversi yang menggelikan.

Mengutip pendapat Profesor Slamet Iman Santoso, bahwa antara umur 5 sampai sekitar 20 tahun manusia mengalami masa yang disebut formative years. Pada periode ini manusia umumnya dapat dipengaruhi sedemikian rupa oleh hal-hal yang ada di sekitarnya termasuk apa yang dilihatnya.

Kembali ke sinetron Anak Jalanan yang banyak ditonton anak-anak. Belakangan banyak dari orang tua merasa khawatir hingga seperti baru terbangun dari mimpi buruknya tentang efek negatif sinetron ini. Saat ini, di kampung saya, bukan hal yang sulit untuk menjumpai anak-anak yang sudah berani membantah perintah hingga melawan orang tuanya.

Ironisnya, anak-anak tersebut ternyata kaum yang sudah berikrar untuk putus hubungan dengan sekolah dan segenap perangkatnya. Tidak bisa dipungkiri, sinetron telah menyumbang pengaruh yang cukup signifikan khususnya dalam kasus anak-anak di kampung saya.

Karena setelah diterapkan metode observasi, anak-anak yang berani menantang orang tuanya dengan kata-kata hingga fisik ini adalah para penggemar setia sinetron setiap episodenya di malam hari.

Dimana pagi dan siang telah dikavling untuk memuaskan tubuhnya di atas kasur untuk mengorok sejadi-jadinya. Bahkan ada kecenderungan kalau mereka secara perlahan mulai meniru life style tokoh fiksi dalam sinetron tersebut dalam kehidupan sehari-harinya.

Sebagai contoh, mereka dengan PD-nya melakukan aksi balapan di jalan raya sampai gas pol dengan bunyi knalpot yang memekikkan telinga para penduduk seisi kampung. Teranyar, ada saja yang berani mengancam ayahnya andai sawah di belakang rumahnya tidak dijual untuk menebus harga beli motor idolanya.

Berharap Kepada KPI

Sinetron yang beberapa kalangan menganggapnya sebagai acara “sampah” sesungguhnya bisa disebut sebagai sebuah komoditas. Komoditas, yang oleh Adam Smith, dibahasakan sebagai sesuatu yang memiliki nilai jual (value in exchange) dan nilai guna (value in use).

Sayangnya, banyak pelaku pertelevisian (baca: sinetron) hanya mementingkan aspek nilai jual demi keuntungan materi dibanding nilai guna dari produksinya. Disinilah letak persoalan serius yang menjadi benang merahnya terutama bagi kelangsungan pendidikan generasi bangsa.

Sehari-harinya mereka harus disuguhi berbagai macam program sinetron yang belum tentu baik bagi proses tumbuh-kembang mereka. Sebagai bagian dari komunitas masyarakat, tentunya kita tidak lebih dari sekadar penikmat produk dari sebuah industri.

Apalah daya sebagai penikmat yang hanya bisa menyodorkan argumentasi alih-alih solusi. Tidak ada kekuatan super yang dimiliki terlebih jika areanya sudah menyangkut soal kebijakan. Namun kekuatan itu bukannya tidak ada sama sekali. Dalam hal ini, tentunya kita berharap banyak kepada komisioner KPI selaku instansi yang punya kewenangan.

Kita berharap KPI senantiasa hadir untuk memastikan sinetron sebagai sebuah komoditas yang selalu on the track melalui kebijakan-kebijakan yang bersifat win-win solution. KPI dengan pelaku industri terkait wajib hukumnya untuk selalu bersinergi demi menghasilkan tontonan yang berkualitas dan edukatif.

Di sisi lain orang tua juga harus selalu berada pada perannya sebagai pendidik sekaligus pendamping bagi anak-anaknya. Hal ini penting untuk memastikan value in use dari program televisi ideal dan positif bagi perkembangan mental sang buah hati.

Sebagai simpulan, kita  selalu berharap bahwa kedepan sinetron bukan hanya menjadi sarana hiburan semata tetapi dapat memposisikan diri sebagai salah satu media edukatif yang mampu menghadirkan generasi penuh prestasi di kemudian hari.

Untuk mewujudkan peran tersebut maka sinetron harus memuat lebih banyak lagi konten siaran berisi pesan moral yang bersifat menguatkan karakter dan menumbuhkan jiwa-jiwa optimis. Karakter hedonis hingga adegan perkelahian yang nyata-nyata merusak moralitas mutlak ditiadakan.

Televisi dengan sinetronnya mungkin acapkali hadir untuk “mengobok-obok” generasi, namun pendidikan tidak boleh takluk. Pendidikan harus menang dalam pertarungan ini melalui peran para pendidik yang ada, terutama pendidik dalam lingkungan keluarga (orang tua).

PENULIS : ISMAIL YUNUS BETTARY
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Malang Jurusan Pendidikan Biologi, Alumnus Uin Alauddin Makassar

EDITOR : RISWAN 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *